BUTTERFLIES & HURRICANES

REVOLUSI YANG INDAH
: kepada generasi muda

Mari menari bersama-sama di angkasa
Sebagai kerumunan kupu-kupu pengunjuk rasa
Kepak serentak sayap mungil kita dengan gemulai
Menghembuskan angin perubahan yang merangsang badai

-Sam Haidy-

 

KEPAK SAYAP KUPU-KUPU REVOLUSIONER

Konon, kepak sayap kupu-kupu kecil di hutan Amazon bisa menciptakan badai di Karibia. Prinsip yang mendasarinya: di balik ketidakteraturan ternyata ada pola-pola keteraturan. Teori ini betul-betul menjadi semacam inspirasi buatku.

Sudah bukan rahasia lagi, belakangan ini anak-anak muda sepertiku ini dikecohkan oleh berbagai macam premis yang melumpuhkan imajinasi. Yang dilumpuhkan itu sebenarnya sangat krusial buat anak-anak muda: imajinasi revolusi sosial. Yang paling patut disalahkan atas menyebarnya wabah pembodohan massal ini ialah para “intelektual pesanan”, dengan proyek-proyek publikasi agenda-agenda pro-neoliberalisme. Untuk itu, aku dengan susah payah harus mencoba menerobos belantara “premis neolib” dengan pisau-pisau analisis yang bisa menegakkan kembali imajinasi akan revolusi sosial. Untuk kemudian, menciptakan revolusi sosial itu di tengah-tengah masyarakat yang memang sudah lama terpenjara oleh proyek pemiskinan massal.

Sekilas, revolusi sosial mirip seperti badai ketidakteraturan yang mengguncang tatanan sosial. Tapi begitukah ? Inilah kesalahan utama yang berpotensi menjauhkan anak-anak muda dari cita-cita revolusioner. Kesalahan ini bersumber dari skenario orbaisme, yaitu: menciptakan jarak selebar-lebarnya antara anak-anak muda dari permasalahan masyarakat di satu sisi, dan di sisi lain, dari teori-teori kerakyatan radikal. Akibatnya jelas, posisi anak-anak muda menjadi mengambang: tidak mengenal ketidakadilan struktural di tengah masyarakatnya dan tidak mengenal pisau-pisau analisis untuk memecahkan masalah -masalah ketimpangan sosial-budaya dan ekonomi-politik yang terjadi di sekelilingnya.

Anak-anak muda digiring untuk hanya mengenal “masyarakat konsumtif” di satu sisi, dan di sisi lain, teori-teori pro kapital dan pro pasar yang membenarkan praktik-praktik konsumsi ekstrem di sentra-sentra komersial. Skenario inilah yang kini dilanjutkan oleh kaum neo-orbais. Lokus dari skenario ini ialah: kampus, media massa, pusat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan. Dan aku berada di tengah-tengah skenario ini pula.

Revolusi adalah menciptakan. Tan Malaka, yang mengatakannya. Kalimat itu muncul sebagai produk kekecewaan terhadap ‘putch’ 1926 hasil skenario Prambanan oleh segelintir elit Partai Komunis Indonesia. Pemberontakan PKI itu gagal. Dan Tan Malaka kemudian menuliskan semacam brosus berjudul Massa Aksi untuk menegaskan arahan gerakan revolusioner pro-kemerdekaan di Indonesia.

Revolusi adalah menciptakan. Aku menambahkannya, Revolusi adalah menciptakan pembaharuan secara radikal. Yang lama ditumbangkan, yang baru dibangun. Nah, proses penumbangan, pembongkaran, penghancuran sistemik inilah yang rupanya ditakutkan oleh anak-anak muda kebanyakan. Yang ditakutkan: proses destruksi berpotensi menimbulkan pertumpahan darah. Hal ini bisa dihilangkan, kalau imajinasi akan revolusi sosial itu sendiri sudah direvolusi terlebih dahulu.

Seorang anak muda yang resah adalah kepompong, dan apabila berkumpul, anak-anak muda itu menjadi kupu-kupu, jika mereka bergerak bersama-sama, anak-anak muda menjadi kupu-kupu yang mengepak dengan indahnya. Nah, gerakan revolusioner adalah gerakan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya secara indah dan radikal.

Imajinasi inilah yang seharusnya membayangi malam-malam sepi anak-anak muda. Imajinasi ini pula yang seharusnya memenuhi semangat anak-anak muda di pagi hari, disamping kicau burung yang merindukan hati itu.

Gerakan revolusioner adalah gerakan terorganisir dan terencana. Gerakan ini direncanakan untuk menciptakan pembaharuan: sebuah revolusi sosial. Setiap kepakan dari kupu-kupu revolusioner adalah langkah-langkah taktis menuju tujuan strategis: menumbangkan tatanan lama.

Pertumpahan darah bisa tidak terjadi, apabila gerakan revolusioner itu menempuh jalan-jalan demokratis seperti: memanfaatkan momen pemilu untuk menguasai parlemen (menciptakan partai revolusioner bersama-sama rakyat banyak yang sudah terkonsolidasi. Atau bisa juga melalui pemboikotan massal, atau mengepung sentra-sentra aparatus negara lalu mendesak diberlakukannya situasi revolusioner dengan mengambil alih pimpinan negara dan menggantikannya dengan pimpinan revolusioner.

Setiap langkah taktis memang terkesan kecil dan jauh dari tujuan revolusi sosial: menciptakan tatanan baru. Tapi langkah kecil itu sebenarnya tidak menciptakan hasil yang kecil.

Misalnya, langkah taktis untuk mengubah kurikulum pendidikan yang pro-pasar dan hanya mengukuhkan agenda-agenda neolib semata itu. Tujuan taktisnya ialah: menggantikan kurikulum ‘menara gading’ yang metodologinya berat dan ketinggalan jaman itu dengan kurikulum kontekstual kerakyatan yang metodologinya lebih ‘nyantai’ dan memberikan peluang bagi anak-anak muda untuk melarutkan dirinya di luar kampus untuk memahami permasalahan-permasalahan masyarakat.

Selama ini, proses pelibatan sosial anak-anak muda di tengah-tengah permasalahan masyarakatnya justru terkena stereotip “kurang kerjaan” oleh rezim pengetahuan neoliberalistik di kampus-kampus kita. Tujuan strategisnya ialah: mendekatkan anak-anak muda dengan permasalahan masyarakatnya hingga kemudian kekuatan anak-anak muda + massa rakyat ini bersama-sama menciptakan solusi revolusioner.
Ini semua adalah kepak sayap kupu-kupu yang cantik.

Mungkin, gerakan anak-anak muda di kampus-kampus terkesan sporadis, tapi sesungguhnya kepak sayap itu mengarah pada badai yang disusun dari keteraturan-keteraturan taktis. Revolusi sosial, siapa takut?

(Essay Tomy Ginting, taken from fordis cybersastra)

Satu Tanggapan to “BUTTERFLIES & HURRICANES”

  1. silah tengok 32 artikel edisi khusus kemerdekaan Majalah Tempo dan 14 buku online tan malaka di

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

    semoga bermanfaat

    salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: