UNCONDITIONAL LOVE (for love’s sake)

Ungkapan penting dari Marx, yang mungkin bisa mewakili seluruh idealisme humanisnya, adalah:

“Mari kita mengasumsikan manusia sebagai makhluk paling mulia dan hubungannya dengan dunia menjadi hubungan yang benar-benar manusiawi. Kemudian cinta hanya dapat ditukar dengan cinta, kepercayaan dengan kepercayaan, dan sebagainya. Jika anda ingin mempengaruhi orang lain, anda harus memiliki pengaruh yang menstimulir dan bersemangat pada orang lain. Setiap hubungan yang anda miliki dengan orang lain dan dengan alam pasti merupakan ungkapan khusus yang berkaitan dengan tujuan keinginan anda, tujuan hidup pribadi anda yang nyata. Jika anda mencintai tanpa membangkitkan cinta, yakni jika anda tidak dapat – dengan memanifestasikan diri anda sebagai orang yang mencintai – membuat diri anda sebagai orang yang dicintai, maka cinta anda tumpul dan mengenaskan.”

Bukan hanya Marx, para nabi dan filsuf nampaknya sama-sama sepakat bahwa Cinta adalah esensi manusia yang terpenting. Setelah watak manusia adalah makhluk yang berpikir, nampaknya hal ini belum cukup kalau tidak didasari oleh Cinta (agape): ini adalah syarat untuk menjadi manusia. Marx nampaknya mendefinisikan cinta sebagai ungkapan manusia terhadap dunianya (orang lain dan alam). Tesis yang mendasari pemikiran Marx adalah bahwa dalam kondisi kepemilikan pribadi tidak terdapat cinta; sehingga keadilan ekonomi-politik dan pemerataan akses-akses pemenuhan kebutuhan hidup dianggap lebih dekat dengan substansi cinta.

Ketimpangan sosial karena ketimpangan kepemilikan alat produksi tidak kondusif bagi termanifestasikannya cinta (Tidak ada Cinta selama orang hanya disibukkan untuk mengurusi kebutuhan materinya dengan pertukaran jual-beli kapitalistik: Cinta dibatasi oleh klaim-klaim kepemilikan pribadi.) Bagaimanapun, cinta adalah ungkapan khusus yang memanifestasikan “tujuan hidup manusia yang nyata” itu. Kemurnian cinta tidak akan ada kalau manusia teralienasi dari hubungan produksi yang timpang, karena alienasi ini terjadi dalam hubungan manusia dengan objeknya. Cinta pada dasarnya adalah kemampuan untuk memberi, atau setidaknya untuk berbagi dengan orang lain.

Perasaan manusia secara alamiah dibentuk oleh objek di luar perasaan itu. Akan tetapi subjek dan objek tidak bisa dipisahkan kalau manusia berani kembali ke dalam watak alamiahnya dan meninggalkan hubungan kepemilikan pribadinya. Sehingga adalah penting untuk menegaskan bahwa — meskipun juga sering diungkapkan dalam lagu-lagu atau puisi — “cinta itu buta”; dalam pengertian bahwa cinta itu tidak mengenal status (ekonomi-politik), jenis kelamin, ras, agama, dan lain-lain: “cinta hanya dapat dipertukarkan dengan cinta”, kata Marx. Perlu dicatat bahwa Marx membicarakan cinta, sebagaimana konsep alienasi yang ia rumuskan, secara filosofis dan bukan secara psikologis.

Sedangkan basis material cinta akan terpenuhi bila secara ekonomi-politik tidak ada ketimpangan kelas. Cinta memerlukan basis materi untuk tidak menjadi suatu konsep yang utopis dan ide-ide kacangan sebagaimana diperdengarkan dalam lip-service para eli-elit dan politisi penipu rakyat atau penyanyi-penyanyi dan para entertainer kapitalis. Pasalnya, meskipun mereka menjual suara-suara bahwa mereka akan memperjuangkan rakyat, ternyata mereka tidak mau merubah hubungan material-produktif di masyarakat. Mereka justru konservatif dan anti-perubahan ketika posisinya yang elitis membuat mereka bisa mendapat kemudahan hidup dengan mengatasnamakan “wakil rakyat”; sementara kebijakan yang mereka buat justru membuat rakyat menderita. Ini sekaligus untuk menegaskan bahwa materialisme-historis Karl Marx masih cukup relevan sebagai analisa dan perjuangan bagi perubahan yang mendasar menuju keadilan.

Orang boleh berkata (dan mengejek): “Apa yang bisa didiskusikan dengan cinta?”. Tapi nampaknya tetap perlu untuk membicarakannya sebab manusia butuh pengetahuan, tentang apapun. Mungkin mereka juga mengejek romantisme dan kata-kata indah: karena, mewakili kalangan yang pesimis-apatis, mungkin mereka terbiasa melihat kenyataan bahwa kata-kata indah selalu menghiasi dan menjadi aroma dalam dinamika kapital; kata-kata indah menjadi alat dan komoditas pasaran, iklan, kepura-puraan artis film dan sinetron. Masyarakat disuguhi estetika yang bapak-ibunya adalah modal. Mereka belum membayangkan masyarakat selain masyarakat kapitalisme: mereka, manusia massa dewasa ini, jarang yang berpikir dan merasa, atau merenung, tentang hakekat cinta. Akhirnya mereka apatis dan tidak lagi percaya dengan cinta, dan menempuh cara-cara yang justru menjauhi nilai-nilai holistis dari cinta itu sendiri. Akibatnya, pelarian filosofis orang-orang korban sistem mengarah pada hal-hal berupa ikut arus secara membuta, atau menyatakan kebejadan sistem dan kemanusiaan dengan cara menjadikan diri sebagai pelaku yang asal-asalan. Banyak orang menjadi pelacur, maling, pembunuh, dan lain-lain hanya karena mereka apatis dalam menghadapi keadaan yang seolah-olah semuanya “bejad”. Adagium “Jaman edan, yen ra edan ra melu keduman” (jaman sudah gila dan rusak, kalau nggak ikut rusak tidak akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan) merupakan ide yang mewakili kalangan itu. Pelarian ini adalah akibat dari ketidakpercayaan masyarakat pada cinta, kebersamaan, kebajikan, serta mengilusi mereka bahwa percuma diadakan perjuangan untuk mengembalikan makna cinta sejati dalam sistem sosial ini. Dan apa yang kita lihat dari hari ke hari? Amoralitas, kanibalisme, dekadensi, degenerasi, kehancuran lingkungan kemanusiaan dan alam semakin merajalela.

Tapi, dalam kondisi pesimisme sosial-budaya seperti itu, tetap masih ada sosialisasi tentang makna dan esensi cinta secara benar dalam masyarakat. Sehingga dunia saat ini butuh propagandis-propagandis cinta yang militan, bukan sebagai artis atau pelacur di majalah-majalah, koran dan TV. Aparat-aparat kapital itu hanya menunjukkan pemaknaan mereka yang “tidak karuan” terhadap cinta, yang justru menjadi propagandis penindasan dan akselerator dehumanisasi. Telah lama muncul istilah ‘’pacaran’’, ditunjukkan dengan agresifitas perburuan (hunting) antar lawan jenis dalam kesemarakan remaja kita, yang tetap mengatasnamakan cinta… cinta yang benar-benar “buta”.

Jadi, selain ada orang-orang yang pesimis sekali terhadap cinta dan keindahan, juga ada orang yang optimis. Sementara masyarakat kapitalis menciptakan manusia pemuja keindahan secara membuta berdasarkan logika kapital dan buaian-buaian iklan. Kreasi keindahan yang diciptakan dalam logika pencarian keuntungan dan akumulasi kapital demi kemewahan dan kemudahan hidup golongan penumpuk modal telah mengkondisikan manusia mengalami estetisasi kehidupan sehari-hari, atau membuat pengaburan atas perasaan dikotomis antara kebahagiaan dan penderitaan: manusia bahagia dalam penderitaannya, menderita dalam kebahagiaannya ataupun puas melihat kebahagiaan orang lain. Inilah corak masyarakat yang dirayakan sebagai modernitas itu: Hasil dari kontradiksi kapitalisme yang berupa kesenjangan kelas ekonomi-politik diestetisasi menjadi kemampuan untuk menerima begitu saja yang hadir bertubi-tubi sebagai humor, erotika, kesedihan, kebahagiaan; dan semuanya bercampuraduk menjadi estetika yang berganti-ganti tiap detik: manusia menjagi gila dalam ketidaksadarannya— sebentar ketawa, sebentar marah, sebentar sedih, sebentar bahagia dari situasi iklan TV yang berganti-ganti dengan sinetron, humor, tragedi, serta acara-acara yang berganti-ganti sebagai kegilaan yang berubah-ubah dalam kesemarakan pasar yang ramai barang-barang konsumen. Tawa, tangis, kesedihan, kemarahan, humor, senyum, air mata, juga menjadi barang dagangan yang menjadi hiburan. –Dalam kapitalisme dewasa ini segalanya menjadi komoditas, termasuk cinta: dan di antara mereka ada yang pesimis, bahwa cinta tidak ada… Tapi mereka masih memungkiri bahwa mereka hanyalah spesies biasa yang kehilangan ancangan filsafat. Inilah the death of phylosophy itu.

Kedalaman hidup, makna cinta sejati, sulit ditemukan dalam manusia kapitalis jika tidak ada perjuangan yang konsisten menuju sistem lain. Karena mereka tidak bisa berpikir banyak di luar hubungan kepemilikan pribadi serta upaya-upaya dan tindakan-tindakan untuk mengatur hubungan pertukaran diri (tubuh dan jiwa) dalam percaturan kapitalistik. Bahwa diri adalah modal, bahwa tubuh, kerja, dan perannya, adalah pertukaran yang diwadahi oleh klaim-klaim kepemilikan pribadi. Pada hal cinta adalah kebebasan untuk dibatasi selain kerelaan; tidak ada cinta sejati selama manusia menganggap bahwa dirinya adalah miliknya sendiri tetapi sebenarnya terasing. Kemanusiaan dan cinta adalah “menjadi”, dan bukan “memiliki”.
Jadi, kapitalisme mengembalikan manusia pada wilayah kedalaman id dan ego-nya yang paling liar, bukan alami pada tingkat konformitas alamiahnya dengan individu lain, alam dan Tuhan. Akhirnya, manusia kembali pada kebinatangannya yang lebih buruk dari pada jaman (komune) primitif. Sebagaimana dipercaya oleh banyak ilmuwan, agamawan, tokoh-tokoh humanis dan filsuf, kapitalisme adalah kesalahan sejarah umat manusia.

Cinta adalah ciri khas kemanusiaan. Tanpa cinta, “manusia” belumlah menjadi Manusia. Tepatnya untuk menjalin cinta hakiki, manusia harus menyelesaikan (melawan) belenggu ekonomi-politik yang mempersempit ruang cinta; untuk mewujudkan nilai cinta, manusia masih dibatasi kelas-kelas sosial, juga prasangka ideologis, suku, agama, ras, dan lain-lain yang membuat hubungan cinta universal menjadi tersekat-sekat.
Konsep cinta saya tempatkan sebagai hal yang abstrak, ia hanya menjelaskan manifestasi hubungan material antar manusia. Di sini Cinta bukanlah suatu hal yang material, bukan kata benda konkrit. Ia adalah spirit, patokan, tujuan hidup manusia. Lebih tepatnya, ketika manusia masih menjadi “binatang” (spesies tingkat rendah) atau “benda”, Cinta dalam semangat perubahan adalah cita-cita yang akan membawa manusia menemukan kebebasannya yang hakiki.
Cinta dari perspektif ini mencoba mengkonstruksikan analisa Marxian tentang masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya.

Sangat jelas, masyarakat terdiri dari kelas-kelas sosial yang antagonistik di mana minoritas selalu mengeksploitasi mayoritas. Wacana Cinta dalam kaitan ini dapat dianalisa berdasarkan sejarah masyarakat di mana kelas-kelas sosial berada di dalamnya. Sejarah Cinta adalah sejarah corak produksi masyarakat. Karl Marx, filsuf yang pada ujung-ujung pikirannya berbicara tentang Cinta dan Humanisme, menggambarkan sejarah kelas dan hubungan masyarakat: corak produksi dan ekonomi adalah struktur bawah yang menentukan struktur pemikiran, ideologi, budaya, dan mungkin cinta sebagai struktur atas. Dari sini jelas: Hakekat Cinta dari manusia akan terwujud bila syarat-syarat material-produktifnya terpenuhi. Dari sini, sulit bagi kita untuk menyangkal analisa materialisme-dialektika, bahwa memang kondisi sosiallah yang mempengaruhi keadaan diri manusia dan masyarakat.

Kelas sosial merupakan produk sejarah riil di masyarakat. Konsep tersebut berhubungan dengan penguasaan atas alat produksi yang mendasari gerak sejarah. Para penguasa alat produksi selalu menggunakan alat-alatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang riil; mereka menggunakan tanah, mesin, teknologi, manusia (buruh) untuk meningkatkan keuntungan dan mengumpulkan kekayaan. Pemikiran manusia yang aktual dan riil adalah untuk menyusun kemampuan dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhannya. Penguasa alat produksi memang tidak pernah mau membagikan kekuasaannya pada orang lain, mereka justru memperluas kekuasaan. Mereka hanya akan memberi dan mengasihani kaum papa dan kaum buruh, tetapi tidak mungkin mereka akan memberikan alat-alat produktifnya untuk disosialisasikan. Ketika semua orang hanya hidup dalam kerja, dan itu secara mendasar untuk kebutuhannya, buruh dan orang miskin juga ingin hidup sebagai manusia, lalu bagaimana kita akan menyangkal bahwa di tingkat hubungan produksi ternyata antagonisme kelas (antara penguasa alat produksi dan kaum papa, antara tuan-budak, tuan-tani hamba, borjuis-proletar) dapat terdamaikan?

Akhirnya, ketika Marx berkata tentang Cinta, juga kepercayaan, dia juga mempelajari hal-hal material di masyarakat. Bukan cinta yang akan merubah sejarah, tetapi materi yang lahir dari semangat cinta yang dapat bergerak dalam sejarah. Dalam pemikirannya yang dianggap banyak kalangan sebagai utopia, maka Cinta hanya akan mewujud secara maksimal dalam masyarakat tanpa kelas. Konsep cinta akan mengacu pada corak produksi sosialis, ketika manusia tidak diasingkan dengan buatannya sendiri. Sebab Cinta berkaitan dengan proses ‘menjadi’ dan bukan ‘memiliki’. Dalam ‘memiliki’ orang merasa ia memberi—bukankah kita sering terikat pada pemberian? Kepemilikan pribadi adalah akar dari penindasan masyarakat, akar dari hilangnya hubungan cinta kasih di antara mahkluk.

Cinta selalu menjadi isu sejarah. Fase-fase masyarakat dan hubungan kelas-kelas dalam sejarah juga bisa dikaitkan dengan penjelasan tentang kisah cinta. Semuanya adalah cinta yang menjadi efek dari basis dasar (mode produksi) di masyarakat. Gejalanya jelas: Cinta era perbudakan, cinta jaman feodal-kerajaan, cinta Siti Nurbaya, kisah Romeo-Juliet, cinta jaman modern, cinta masyarakat konsumen, cinta di era neo-liberal… masing-masing punya karakteristiknya masing-masing.

Pada jaman perbudakan, nilai cinta nampaknya sulit termanifestasikan. Tuan mempekerjakan budaknya tanpa belas kasihan; budak adalah alat produksi tuan yang harus mau disuruh apa saja, terutama mencari uang, dan untuk melampiaskan kebutuhan seksual hubungan tuan-budak.
Kisah cinta jaman feodal dan kerajaan akan lain lagi. Raja dan tuan tanah adalah penguasa yang dikukuhkan dengan kepercayaan; hak istimewa kaum bangsawan ini membuat mereka mampu melakukan eksploitasi dan penindasan yang dipatuhi. Kaum bangsawan menganggap diri sebagai manusia yang lebih tinggi dari pada kelas tani hamba: wilayah kerajaan dan negara adalah milik raja; tugas kaum rendahan adalah bekerja keras dan harus membayar upeti kepada raja (bangsawan) yang dianggap penguasa tanah-negeri. Keluarga kaum bangsawan hanya dianggap pantas “menjalin cinta” dengan kelas yang sederajat, yang tujuannya adalah untuk melanggengkan status feudal itu untuk masa-masa selanjutnya. Dalam masyarakat ini, adalah tidak wajar kalau para pangeran dan tuan putri jatuh hati pada rakyat jelata. Bila raja atau pangeran tertarik secara seksual pada seseorang, dia bisa dengan mudah mendapatkan seseorang yang diinginkannya itu.

Di era kapitalisme, ketika corak produksi perbudakan dan feodal diganti dengan model kapitalistik, pandangan-pandangan feudal yang melanggengkan hubungan sosialnya semakin terkikis, lalu diganti dengan rasionalitas hubungan pasar bebas. Dan di sinilah, irrasionalitas manusia pada kenyataannya tidak hilang dari kondisi sosialnya; Pasar dan kapitalisme mendatangkan irrasionalitas baru yang mempercepat dan menambah intensitas penindasan.

(taken from fordis cybersastra, posted by Nursoy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: