DADAISME

I. PENGENALAN

Dada, adalah sebuah gerakan seni di awal abad 20, yang anggotanya bertujuan untuk menyindir secara konyol kebudayaan pada masa itu melalui rancangan seni pertunjukan, puisi, dan seni visual yang absurd. Para Dadais merangkul hal-hal yang luar biasa, irasional, dan yang bertentangan secara besar-besaran sebagai reaksi terhadap kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak dapat dipahami dalam Perang Dunia I (1914-1918). Karya mereka dipicu oleh keyakinan bahwa nilai-nilai nasionalisme kebudayaan Eropa yang tertancap kuat, militerisme, dan bahkan tradisi panjang filsafat rasional mempunyai andil yang besar atas terjadinya kengerian perang tersebut. Dada sering digambarkan sebagai nihilistik, yaitu menolak semua nilai-nilai moral; bagaimanapun juga, para Dadais menganggap gerakan mereka sebagai penegasan akan pentingnya hidup ketika menghadapi kematian.

II. BENTUK-BENTUK AWAL

Gerakan Dada memperoleh nama dan identitas yang dapat dikenal jelas pada tahun 1916, tapi karya beberapa seniman sebelumnya telah mengandung roh Dada pada tahun-tahun lebih awal. Pada tahun 1913, seniman Perancis Marcel Duchamp membuat karya-siap-saji pertamanya, yang mana ia mengerek obyek sehari-hari seperti roda sepeda atau rak botol, mengangkat statusnya menjadi setara dengan seni ukir hanya dengan cara memamerkannya di galeri dan mendaulatnya sebagai seni. Duchamp dan seniman Perancis lainnya, Francis Picabia, membuat lukisan-lukisan dan gambar-gambar yang penuh dengan main-main, dan ukiran yang menggambarkan figur sebentuk mesin misterius-sebuah sindiran keras terhadap teknologi baru. Karya mereka menarik perhatian himpunan kecil-tapi-aktif para pemuka masyarakat, penulis, dan seniman Amerika yang simpatik termasuk fotografer Man Ray.

III. KABARET VOLTAIRE

Dadaisme diluncurkan secara sungguh-sungguh pada Februari 1916 ketika Hugo Ball, seorang penyair dan musisi Jerman, beserta istrinya, seniman panggung Emmy Hennings, membuka Kabaret Voltaire di Zurich, Swiss. Sebagai negara netral, Swiss adalah tempat perlindungan bagi para penentang perang, dan sedari awal Kabaret tersebut telah menarik banyak kelompok seniman dan kaum intelektual internasional. Mereka lalu melaju dibawah panji Dada, sebuah istilah yang asal muasalnya masih diperdebatkan. Penulis Jerman (yang kemudian menjadi psikolog), Richard Huelsenbeck, mengklaim bahwa ia dan Ball memilih nama itu sebagai nama panggung bagi penari wanita dalam Kabaret; tapi penulis Rumania yang lahir di Perancis, Tristan Tzara, yang menjadi penyebar utama Dada, juga mengklaim kepenulisan nama tersebut. Dalam beberapa hal, nama Dada, yang bahasa Perancisnya “kuda mainan”, memenangkan banyak dukungan untuk keambiguannya dan jelas-jelas tak punya makna sama sekali. Dalam manifesto pada tahun 1918, Tzara memproklamirkan, “DADA BERARTI BUKAN APA-APA”.

Acara-acara malam hari di Kabaret Voltaire dimaksudkan sebagai sindiran keras dan mengundang pementasan oleh sebagian penyair yang merupakan anggota gerakan seni sejawat di Italia yang dinamakan futurisme, yang merayakan permesinan, kecepatan, dan aspek-aspek lainnya dari kehidupan modern. Keseragaman pemahaman diletakkan paling rendah, dan busana yang dikenakan seringkali aneh. Seniman Perancis, Jean Arp, adalah partisipan tidak tetap dalam Kabaret Voltaire yang menggambarkan sebuah malam pementasan sebagai “Kekacauan total. Orang-orang di sekeliling kami berteriak, tertawa, dan menggeliat-gelinjang. Sahutan-sahutan kami adalah desah-desah cinta, berondongan sedakan, puisi-puisi, lenguhan-lenguhan… Tzara meliuk-liukan pantatnya seperti perut penari oriental. [Seniman Rumania Marcel] Janco memainkan biola tak kasat mata lalu menunduk dan menggesek-geseknya… Nyonya Hennings, dengan wajah Madonna, merenggangkan kakinya sampai ke dasar lantai. Huelsenbeck menabuh-nabuh drum yang sangat besar tanpa henti, dengan Ball menemaninya pada piano, pucat pasi seperti hantu berkapur.”
Para Dadais mempromosikan seni untuk anak-anak, orang gila, non-eropa, dan orang-orang lainnya yang di luar norma-norma yang bisa diterima masyarakat Eropa.

IV. DADA DI JERMAN DAN PERANCIS

Dalam setahun sejak didirikan pada tahun 1916, fokus Dada bergeser. Kabaret Voltaire hanya bertahan lima bulan, dan Ball keluar dari gerakan tersebut tahun 1917. Tzara tetap aktif di Zurich, menerbitkan majalah Dada, tapi Huelsenbeck pada tahun 1917 kembali ke Berlin, ibukota Jerman yang luluh lantak oleh perang, di mana Dada menjadi jauh lebih condong ke politik. Huelsenbenk membuat komitmen terhadap filsafat politik sosialis sebagai prinsip sentral Dada, dan kemudian menariknya kembali, “di sana ada seniman dan borjuis. Kau harus mencintai satu dan membenci yang lain.”
Sementara Huelsenbeck memproklamirkan “Dadais mempertimbangkan perlunya untuk mulai keluar melawan seni, karena ia telah melihat di balik kepalsuannya sebagai keran keamanan moral,” seorang Dadais Jerman lainnya menghasilkan ejawantah karya seni visual penting dari gerakan tersebut dalam bentuk potret serpihan. Menggunakan gambar-gambar yang dipotong dari koran-koran dan bungkusan iklan, seniman Raoul Hausmann, John Heartfield, dan Hannah Hoch membuat karya serpihan satiris yang brutal menyerang masyarakat dan pemerintah Jerman. Seniman Jerman George Grosz membuat gambar-gambar menggigit secara seimbang yang mendakwa masyarakat Jerman terhempas ke jurang kekacauan yang dalam setelah kalah perang.

Pusat lainnya dari aktivitas Dada di Jerman termasuk Cologne, di mana Max Ernst membuat lukisan-lukisan dan karya serpihan, dan Hannover, di mana Kurt Schwitters merakit ukiran dari serpihan-serpihan puing bangunan biasa. Proyek Schwitters, yang dinamainya Merz (rakitan kata), mencapai puncak dalam karya yang dinamainya Merzbau (1923-1936, dihancurkan), sebuah rakitan dari obyek-obyek yang kurang berguna yang memenuhi hampir seluruh studio dan rumah keluarganya. Cengkeraman Dada yang terakhir adalah di Paris, tempat ke mana hampir semua partisipan pentingnya-Tzara, Ernst, Picabia, Duchamp, Man Ray, dan Arp—pindah antara tahun 1919 sampai 1922.

V. WARISAN DADA

Pada akhir tahun 1922 gerakan Dada mulai runtuh. Perselisihan meningkat di antara beberapa anggotanya, dan yang lainnya tampaknya lelah mempertahankan pendirian kebencian membabi buta terhadap masyarakat. Di Paris para Dadais bergabung dengan sekelompok penulis, termasuk orang-orang Perancis André Breton, Louis Aragon, Paul Éluard, dan Philippe Soupault, yang menuangkan ketertarikan Dada terhadap irasionalitas dan kesempatan ke dalam gerakan baru yang dikenal sebagai surealisme. Pengaruh Dada juga terasa dalam beberapa gerakan-gerakan sesudahnya. Antara lain kelompok seniman pementasan pada tahun 1960 yang dikenal sebagai Fluxus; gerakan seni pop, yang mana meracik image dari kebudayaan populer; dan gerakan seni konseptual, yang mana menampilkan konsep/ide itu sendiri sebagai seni.

Sumber: Encarta Reference Library
Kontributor: Nancy Princenthal
Diterjemahkan oleh: Sam Haidy

11 Tanggapan to “DADAISME”

  1. Contoh Gambarnya Ya apa

  2. Waktu itu saya belum sempat nyari. Googling aja, barangkali ada🙂

  3. hei.. biar lebih lengkap tambahin link dokumenter Dada dari Youtube, ada kok.. malah kupikir ini terjemahan dari video dokumenter yang ada di Youtube itu.

  4. keren-keren bacaannya. trim

  5. Mas artikelnya boleh dicontek dikit ngga? Saya lagi mendalami dada nih…

  6. What’s up friends, how is all, and what you desire to say on the
    topic of this piece of writing, in my view its actually awesome for me.

  7. Very nice post. I just stumbled upon your blog and wished to
    say that I have really enjoyed browsing your blog posts.
    In any case I’ll be subscribing to your feed and I hope you write again soon!

  8. Thank you, I’ve just been looking for information about this topic for a while and yours is
    the greatest I have discovered so far. However,
    what about the conclusion? Are you positive about the supply?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: