DO’A SERIBU BAHASA

Tak lagi kusapa Tuhan.
Bukannya aku sombong, tapi aku segan.
Kurasa Dia bosan dengan basa-basiku,
do’a-do’a latah yang terhambur tanpa penghayatan.

Aku hanya bisa terdiam;
kehadiranNya telah menyita kata…

-Sam Haidy-

Satu Tanggapan to “DO’A SERIBU BAHASA”

  1. Lurus Nan Suci

    Sebelum ufuk menjelang.
    Pada petang hari, terik atau teduh.
    Menjelang sore, saat senja hari.
    Melewati senja kala malam hari.

    Lima waktu hari harus dibagi.
    Harus menghadap ke satu arah.
    Tanpa batas sudut arah melihat.
    Tanpa banyak waktu melakukannya.

    Cukup pusatkan hati pada satu persoalan.
    Hapuskan asa pada segala persoalan lain.
    Gagal atau hasil bukanlah pilihan nyata.

    Hanya pasrah dengan usaha jiwa semata.
    Yang pasti tiada jawaban yang nyata, satu pun juga.
    Seperti hal manusia berbicara dan menghadapi kenyataan.
    Segala pun hal tidak perlu lah diucap, namun dimaknai.

    Berdiri tegak, menatap ke satu rumah, cukup lah sudah.
    Mengucap kata tanpa bahasa terucap, akidah mungkin sudah.
    Bilamana semesta seperti bola raksasa gelap gulita.
    Berdiri dan bersujud akan tepat pada pusat pusarnya.

    Semua itu diamini dengan seribu asa, namun satu keyakinan.
    Bisu belaka menjadi sia-sia. Penuh makna berbunga pahala.
    Bercakap seolah-olah kepada pemilik semesta yang maha.
    Tempat dimana manusia hanyalah titik debu belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: