Arsip untuk Agustus, 2009

TERJEMAHAN BEBAS : BELUM ADA JUDUL – IWAN FALS

Posted in Miscellaneous on Agustus 31, 2009 by Sam Haidy

UNTITLED

Together we used to fight
Trapped in a cold of night
Slipped into a hole of the street
Trampled by intolerant time’s feet
Tied by sweet dream
We were dim…

Together we used to feel
Hot sunlight burned our will
Until we both no longer sure
The wheel of fate still endure
Do you remember, my brother?

As day by day exchange so fast
With burning grudge at heart, you leave your past

It’s been so long I’ve been alone
Without someone who could turn me on
Until today we finally reunite here
Your sharp eyes become a soul’s souvenir
You take my hand, help me to stand, my friend!

(Translated by Sam Haidy)

—————————————————————————-

BELUM ADA JUDUL (Lirik Iwan Fals)

Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah…

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat, masih ingatkah kau?

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar, bangkitkan aku, sobat!

TERJEMAHAN BEBAS : TAK SEPADAN – CHAIRIL ANWAR

Posted in Poetry on Agustus 27, 2009 by Sam Haidy

UNEQUAL

I guess
This is what we will become :
You marry, having childs, and happy

While I wander like Ahasveros
Cursed-damned by Eros

I crawl at the blind wall
No door’s opened at all

So I think we better turn off
This fire of love
For it won’t do you any harm
For me, it will be no longer warm

(Translated by Sam Haidy)

—————————————————————————

TAK SEPADAN (Puisi Chairil Anwar)

Kukira
Beginilah nanti jadinya :
Kau kawin, beranak, dan bahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi ada baiknya kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

FLASHBACK….

Posted in Miscellaneous on Agustus 18, 2009 by Sam Haidy

When I was in college, several years ago, I pushed myself so hard to master poem-writing. Even I set a target: at least I must write one poem per day. Even during class, instead of paying attention on the subject, I was so busy searching for something to be written as a poem. So if something big was happening, I had already ready to grab the moment and pour it into poem. And then Tsunami came…

It was a shocking massive tragedy no one could ever imagine. Even it paralyzed my poem-writing sense for about a week, till I eventually was able to write it down. I had no expectation, just wanted to share my empathy through poem…

And then, coincidentally, I caught an info on the net that there’s a publisher gonna make a poems-anthology book for charity. So I sent mine. I just wanted to contribute, without any expectation to be chosen. So when it came true, it took me by surprise…

It was hard to believe. My name was there, along with Indonesian giant poets: Rendra, Sapardi, Taufiq, Sitor, etc. That made me happy yet sad. I couldn’t celebrate that high achievement upon such tragedy…

But at least, I, along with them, got something to give for the victims. We took no profit from the books’ selling, all were given for charity.

That was the point where I decided to give up my college for literature. So here I am now, still as an unsettled struggling words’ wanderer….

-Sam Haidy-

REFLEKSI 64 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA

Posted in Miscellaneous on Agustus 16, 2009 by Sam Haidy

Kita tak perlu lagi meruncingkan bambu
Tak perlu lagi teriak “MERDEKA ATAU MATI”

Tongkat kemerdekaan sudah di tangan
Diestafetkan dari generasi terdahulu

Mau ke mana kita membawanya?

-Sam Haidy

MEDLEY KARTU SELULER : MOMENTUM KONTRIBUSI POP-ART DALAM KEHIDUPAN RELIGI

Posted in Writings on Agustus 16, 2009 by Sam Haidy

Tahun lalu, H-3 menuju bulan Ramadhan, saya menerima SMS dari salah seorang teman. Isinya kurang lebih seperti ini  :

ASsalamualaikum… HALO FREN, 3 hari lagi kita memasuki bulan Ramadhan 1428 H. Mungkin ada banyak khilaf, tapi kuminta SIMPATImu untuk memaafkanku. Semoga kita BEBAS dari segala kesalahan, hati kita dicerahkan seperti MENTARI & amal ibadah kita tidak (e)SIA-2… maka dari itu, Mari Maaf Memaafkan (M3), Tuhan pasti mengacungkan JEMPOL…”

Saya tersenyum membacanya, sambil memuji dalam hati: “kreatif juga nih orang”. Setelah saya konfirmasi, ternyata bukan teman saya itu yang membuatnya, dia pun menerimanya dari orang lain. SMS seperti ini memang cepat sekali menyebar (entah siapa yang memulainya), terutama pada momen-momen tertentu seperti Ramadhan dan Idul Fitri. Tahun sebelumnya pun saya menerima SMS sejenis dari teman yang lain, tapi rangkaian kata-katanya masih terlalu klise untuk mengusik selera puitik saya.

Meskipun SMS seperti ini sudah banyak digunakan sebelumnya, baru kali ini saya tergelitik untuk menyimaknya lebih jauh. Ada beberapa rangkaian kata yang menurut saya cukup kreatif dalam merangkainya, butuh kepekaan tinggi dalam menangkap hal-hal baru lalu mengeksplorasi diksi secara maksimal. Rangkaian kata-kata tersebut terasa alami, mengalir sewajarnya, sebagai medley yang membentuk sebuah kesatuan yang harmonis. Ada beberapa merk kartu seluler baru yang sebelumnya belum ada ditempatkan secara tepat dalam kalimat tersebut, sehingga kehadirannya tidak terkesan mengada-ada atau sebagai pelengkap belaka.

Mungkin banyak orang yang menganggap MEDLEY KARTU SELULER tersebut sebagai hal yang sepele atau iseng-iseng belaka. Tapi menurut saya ini adalah contoh representatif bagaimana sebuah karya “Pop Art” berhasil memberikan sumbangan yang berarti bagi budaya kontemporer. Kalau masih hidup, Andy Warhol pun pasti mengacungkan jempol. “Godfather of Pop” itu akan bangga karena ternyata “Pop Art” tidak melulu menjadi limbah konsumerisme belaka, tapi ada nilai krusialnya bagi segi kehidupan vital (dalam hal ini religi), memberi penyegaran pada ungkapan-ungkapan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan momen-momen tertentu.

Selain itu, MEDLEY KARTU SELULER ini adalah sebuah ironi; di mana saat ini persaingan antar merk kartu seluler semakin ketat (bahkan mengarah ke persaingan tidak sehat, contoh kongkritnya adalah adanya iklan yang secara vulgar menjatuhkan para pesaingnya), medley ini malah mempersatukan merk-merk tersebut untuk dijadikan sebuah kalimat ucapan/ungkapan, untuk tujuan baik pula!

Demikianlah; hal-hal yang dengan mudahnya kita anggap sepele atau iseng-iseng belaka mungkin saja mengandung sesuatu yang mempunyai nilai lebih bila ditelaah lebih dalam.

Do not judge Pop Art by its surface.

-Sam Haidy-

NOORDIN M TOP : PARASIT AGAMA

Posted in Miscellaneous on Agustus 12, 2009 by Sam Haidy

Noordin M Top adalah tanaman rambat yang menjalar dari negeri jiran, parasit yang menumpang nama agama untuk melilitkan doktrinnya pada anak-anak bangsa yang hilang pegangan….

-Sam Haidy-

AADR? (Ada Apa Dengan Rangga, eh, Rako?)

Posted in Writings on Agustus 11, 2009 by Sam Haidy

Puisi perpisahan Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta yang ditulis oleh Rako Prijanto adalah plagiat yang jelas-jelas disengaja dari salah satu puisi WS Rendra yang berjudul “Terpisah”. Meskipun cuma ada tiga baris yang nyaris serupa, mustahil rasanya untuk percaya bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Rako hanya sedikit memodifikasi lalu menyelipkan baris-baris dari puisi Rendra tersebut ke dalam puisinya. Bahkan dari judulnya saja bisa dilihat bahwa Rako benar-benar berniat mencari sebuah puisi yang bertema perpisahan untuk kemudian dicontek. Sangat mungkin kata kunci yang digunakan Rako waktu mencari puisi untuk ending scene AADC adalah “terpisah”, lalu ditemukannyalah puisi Rendra tersebut.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bandingkan dua puisi di bawah ini :

ADA APA DENGAN CINTA? (Puisi Rako Prijanto)

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru kali ini aku melihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan lagi cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja

TERPISAH (Puisi WS Rendra)

Racun lagu duka merambat di kelengangan malam kota.
Lampu jalanan dipingsankan hujan.
Berbaringan rumah-rumah wajahmu di temboknya.
Kesepian seperti sepatu besi.
Menekur semua menekur dikhianati bulan.

Engkau bulan lelap tidur di hatiku.
Oleh sepi diriku dirampas jalan raya.
Semua didindingi kelam dan kedinginan.
Maut atau ribamu di ujung jalan itu.
Digenangi air adalah racun duka adalah wajahmu.

Hmm… padahal dalam film tersebut ada salah satu dialog seperti ini :

Milly : “Plagiat itu apa sih?”
Maura : “Plis deh Mil… plagiat itu nyontek punya orang”

Sungguh ironis….

-Sam Haidy-