MEDLEY KARTU SELULER : MOMENTUM KONTRIBUSI POP-ART DALAM KEHIDUPAN RELIGI

Tahun lalu, H-3 menuju bulan Ramadhan, saya menerima SMS dari salah seorang teman. Isinya kurang lebih seperti ini  :

ASsalamualaikum… HALO FREN, 3 hari lagi kita memasuki bulan Ramadhan 1428 H. Mungkin ada banyak khilaf, tapi kuminta SIMPATImu untuk memaafkanku. Semoga kita BEBAS dari segala kesalahan, hati kita dicerahkan seperti MENTARI & amal ibadah kita tidak (e)SIA-2… maka dari itu, Mari Maaf Memaafkan (M3), Tuhan pasti mengacungkan JEMPOL…”

Saya tersenyum membacanya, sambil memuji dalam hati: “kreatif juga nih orang”. Setelah saya konfirmasi, ternyata bukan teman saya itu yang membuatnya, dia pun menerimanya dari orang lain. SMS seperti ini memang cepat sekali menyebar (entah siapa yang memulainya), terutama pada momen-momen tertentu seperti Ramadhan dan Idul Fitri. Tahun sebelumnya pun saya menerima SMS sejenis dari teman yang lain, tapi rangkaian kata-katanya masih terlalu klise untuk mengusik selera puitik saya.

Meskipun SMS seperti ini sudah banyak digunakan sebelumnya, baru kali ini saya tergelitik untuk menyimaknya lebih jauh. Ada beberapa rangkaian kata yang menurut saya cukup kreatif dalam merangkainya, butuh kepekaan tinggi dalam menangkap hal-hal baru lalu mengeksplorasi diksi secara maksimal. Rangkaian kata-kata tersebut terasa alami, mengalir sewajarnya, sebagai medley yang membentuk sebuah kesatuan yang harmonis. Ada beberapa merk kartu seluler baru yang sebelumnya belum ada ditempatkan secara tepat dalam kalimat tersebut, sehingga kehadirannya tidak terkesan mengada-ada atau sebagai pelengkap belaka.

Mungkin banyak orang yang menganggap MEDLEY KARTU SELULER tersebut sebagai hal yang sepele atau iseng-iseng belaka. Tapi menurut saya ini adalah contoh representatif bagaimana sebuah karya “Pop Art” berhasil memberikan sumbangan yang berarti bagi budaya kontemporer. Kalau masih hidup, Andy Warhol pun pasti mengacungkan jempol. “Godfather of Pop” itu akan bangga karena ternyata “Pop Art” tidak melulu menjadi limbah konsumerisme belaka, tapi ada nilai krusialnya bagi segi kehidupan vital (dalam hal ini religi), memberi penyegaran pada ungkapan-ungkapan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan momen-momen tertentu.

Selain itu, MEDLEY KARTU SELULER ini adalah sebuah ironi; di mana saat ini persaingan antar merk kartu seluler semakin ketat (bahkan mengarah ke persaingan tidak sehat, contoh kongkritnya adalah adanya iklan yang secara vulgar menjatuhkan para pesaingnya), medley ini malah mempersatukan merk-merk tersebut untuk dijadikan sebuah kalimat ucapan/ungkapan, untuk tujuan baik pula!

Demikianlah; hal-hal yang dengan mudahnya kita anggap sepele atau iseng-iseng belaka mungkin saja mengandung sesuatu yang mempunyai nilai lebih bila ditelaah lebih dalam.

Do not judge Pop Art by its surface.

-Sam Haidy-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: